Penantian bodoh itu, kini berhenti pada satu titik jenuh. Bukan jedah, tapi benar-benar berhenti. Mungkin untuk selamanya. Ya…mungkin….hanya ada mungkin dan mungkin. Penantian bodoh seorang manusia gila. Mereka bilang dia gila. Dia memang gila tapi bukan gila kekuasaan atau uang. Di hanya gila. Gila yang absurd. Gila yang hanya dimengerti oleh satu orang. Satu orang yang membuat dia menyadari kegilaannya. Dia, sigila itu, terlalu mencintai seseorang yang membuatnya jadi orang lain. Seseorang yang selalu menggunakan fungsi psikis berfikirnya bukan fungsi psikis rasanya. Seseorang yang berjiwa bajingan yang selalu berceloteh tentang kata-kata cinta yang ia anggap suci padahal sangat kotor. Kata-kata cinta itu ia kotori dengan berbagai jenis sajak-sajak palsu yang dibuat dengan berdasarkan kebohongan-kebohongan yang mengatas namakan cinta. Kini sigila itu sadar, kalau penantiannya sedikitpun tidak pernah dilirik oleh bajingan yang telah meninggalkannya tanpa mengucapkan sepenggal kalimat perpisahan. Sigila dibiarkannya terpuruk. Sigila terjerat dalam pembirokrasian sang bajingan bermata tajam. Bajingan itu kini berada dalam ribuan dekapan mangsa-mangsa barunya yang siap disantap dan segera ditinggalkan tanpa adanya kejelasan. Acungan jempol buatmu sang bajingan bermata tajam, karena permainanmu sangat halus, sehingga kejahatanmu dari awal tak terbaca. Kau memang sang pelaku sejarah yang sangat handal. Tapi sigila sekarang muak melihatmu. Sigila jijik melihat senyummu didalam sebuah gambar yang dinamakan foto.
Kamis, 19 Maret 2009
Akhir pembiRokrasian Bajingan Bermata Tajam
Penantian bodoh itu, kini berhenti pada satu titik jenuh. Bukan jedah, tapi benar-benar berhenti. Mungkin untuk selamanya. Ya…mungkin….hanya ada mungkin dan mungkin. Penantian bodoh seorang manusia gila. Mereka bilang dia gila. Dia memang gila tapi bukan gila kekuasaan atau uang. Di hanya gila. Gila yang absurd. Gila yang hanya dimengerti oleh satu orang. Satu orang yang membuat dia menyadari kegilaannya. Dia, sigila itu, terlalu mencintai seseorang yang membuatnya jadi orang lain. Seseorang yang selalu menggunakan fungsi psikis berfikirnya bukan fungsi psikis rasanya. Seseorang yang berjiwa bajingan yang selalu berceloteh tentang kata-kata cinta yang ia anggap suci padahal sangat kotor. Kata-kata cinta itu ia kotori dengan berbagai jenis sajak-sajak palsu yang dibuat dengan berdasarkan kebohongan-kebohongan yang mengatas namakan cinta. Kini sigila itu sadar, kalau penantiannya sedikitpun tidak pernah dilirik oleh bajingan yang telah meninggalkannya tanpa mengucapkan sepenggal kalimat perpisahan. Sigila dibiarkannya terpuruk. Sigila terjerat dalam pembirokrasian sang bajingan bermata tajam. Bajingan itu kini berada dalam ribuan dekapan mangsa-mangsa barunya yang siap disantap dan segera ditinggalkan tanpa adanya kejelasan. Acungan jempol buatmu sang bajingan bermata tajam, karena permainanmu sangat halus, sehingga kejahatanmu dari awal tak terbaca. Kau memang sang pelaku sejarah yang sangat handal. Tapi sigila sekarang muak melihatmu. Sigila jijik melihat senyummu didalam sebuah gambar yang dinamakan foto.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar